السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PENDAHULUAN

Kepribadian dalam bahasa inggris disebut “personality”, yang berasal dari bahasa latin “persona”, yang berarti topeng. Kata persona lambat laun berubah menjadi istilah yang mengacu pada gambaran social atu peran tertentu pada diri individu. Dari istilah ini, sering kita jumpai ungkapan “ si satrio yang berarti berkepribadian kesatria, si dewi berkepribadian pendekar putri’.

Pengertian kepribadian menurut para ahli

  1. Koswara (1991) Dalam pengertian sehari – hari
    kepribadian adalah Bagaimana individu menampilkan dan menimbulkan kesan bagi individu lain.
  2. Allport (1937) sebagaimana dikutip oleh Gunarso.S.D dan Ny.Gunarso S.D (1089)
    Kepribadian adalah “Suatu organisasi yang dinamis dan sistem – sistem psikofisis di dalam individu yang menentukan penyesuaian yang khas terhadap lingkungannya”.
  3. Maramis (1999)
    Kepribadian adalah “Keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus-menerus terhadap hidupnya”.
  4. Freud yang dikutip oleh Koswara (1991)
    Kepribadian adalah “Suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yakni, id, ego,dan superego”.
  5. Soeharto Heerdjan (1987)
    Kepribadian adalah “Himpunan segala fungsi kejiwaan seseorang sebagai suatu kesatuan dinamis dengan mengusahakan penyesuaian diri orang tadi terhadap tuntutan hidup sambil menjaga keseimbangan diri, baik secara fisik (jasmani) maupun psikis (rohaniah)”.
  6. Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey (2000)
    Kepribadian adalah “Sesuatu yang memberi tata tertib dan keharmonisan terhadap segala macam tingkah laku berbeda – beda yang dilakukan si individu”.

Jadi, kepribadian meliputi segala corak tingkah laku individu yang terhimpun dalam dirinya, yang digunakan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap segala rangsang, baik yang dating dari luar dirinya dan lingkungannya (eksternal) maupun dari dalam dirinya sendiri (internal) sehingga corak tingah lakunya itu merupakan satu kesatuan fungsional yang khas bagi individu itu.

PARADIGMA PSIKOANALITIC

Sigmund Freud

Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri keturunan psikoanalisis, lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang sekarang terkenal sebagai bagian dari republik Ceko.

Psikoanalisis adalah gerakan yang mempopulerkan teori bahwa motif tidak sadar mengendalikan sebagian besar perilaku. Freud tertarik pada hipnotis dan penggunaannya untuk membantu penderita penyakit mental. Kemudian ia meninggalkan hipnotis untuk asosiasi bebas dan analisis mimpi guna mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai “obat dengan berbicara”. Hal – hal seperti inti yang menjadi inti psikoanalisis. Sistematik yang dipakai Freud dalam mendiskripsikan kepribadian menjadi tiga pokok bahasan, yakni; Struktur kepribadian, Dinamika kepribadian, dan Perkembangan kepribadian.

Menurut Freud psikoanalisis mempunyai 3 arti Bertens 1979 yaitu :

  1. Untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proses – proses psikis yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah.
  2. Untuk menunujukan suatu teknik untuk menyembuhan gangguan – gangguan jiwa yang dialami pasien neurosis.
  3. Untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut.

STRUKTUR KEPRIBADIAN

Menurut Freud, struktur kepribadian manusia terdiri atas aspek Das Es (The id), Das ich (The ego), Das Ueber Ich (The super ego).

a.   Das Es (The id)

  • Sistem kepribadian yang asli (orisinil)
  • Aspek biologis kepribadian dan berkaitan dengan aspek jasmaniah.
  • Realitas kejiwaan yang sebenarnya (the true psychic reality)
  • Dunia batin atau subjektif manusia yang tidak memiliki hubungan langsung dengan dunia luar atau objektif.
  • Tempat tumbuh Das Ich (The ego) dan Das Ueber (The super ego)
  • Unsur biologis yang diwariskan sejak lahir, termasuk insting
  • Reservoir”eneri psikis yang menggerakan Das Ich (The ego) dan das Ueber Ich (The super ego). Energy psikis ini dapat meningkat karena perangsang dari dalam maupun luar.  Apabila energy psikis menigkat, akan timbul tegangan dan pengalaman tidak menyenangkan, kemudian oleh Das Es (The id) direduksi untuk menghilangkan rasa tidak enak.

        Das Es (The id) berfungsi untuk menghindarkan ketidakenakan dan mengejar keenakan, disebut prinsip kenikmatan/prinsip    keenakan (the pleasure principle) atau disebut pula “proses primer”.

Cara menghilangkan ketidakenakan atau menghindarkan ketidakenakan dan mencari kenikmatan melalui :

  • Refleks
    Reaksi yang tidak disadari terhadap stimulus dan berlangsung di luar kemauan atau dengan reaksi otomatis yaitu gejala gerak yang berlangsung dengan sendirinya, tidak disadari, dan di luar keinginan (mis. Bersin, batuk, dan berkedip)
  • Proses primer
    Seperti orang lapar yang membayangkan makanan atau orang haus membayangkan minuman.

 b.   Das Ich (The ego)

Merupakan aspek psikologis kepribadian yang timbul karena kebutuhan baik dengan dunia nyata atau realitas.

Perbedaan pokok antara Das Es (The id) dan Das Ich (The ego), yaitu pada Das Es (The id) hanya mengenal dunia subjektif  atau batin, sedangkan Das Ich (The ego) dapat membedakan sesuatu yang ada dalam dunia nyata atau dunia objektif.

Contoh:

Orang lapar tidak hanya membayangkan makanan saja, tetapi harus mencari, menemukan, dan mengonsumsi makan untuk menghilangkan ketegangan karena rasa lapar.

Das Ich (The ego) berfungsi untuk mempersatukan pertentangan antara Das Ich (The ego) dan Das Ueber Ich (The supper ego) serta dunia nyata. Berpengan pada “prinsip kenyataan” dan beroperasi menurut “proses sekunder”, yaitu proses berpikir realistic.

Tujuan dari “prinsip kenyataan” adalah mencari sasaran yang tepat/serasi untuk mereduksi tegangan yang timbul dalam diri organisme. Dengan prinsip sekunder, Das Ich (The ego) merumuskan suatu rencana dalam pemuasan kebutuhan danmnegujuinya dengan suatu tindakan untuk mengetahui rencana itu berhasil atau tidak. Sebagai contoh, orang yang lapar merencana dimana dapat makan, kemudian pergi ke tempat tersebut untuk mengetahui apakah rencana tersebut sesuai dengan kenyataan atau tidak. Perbuatan tersebutdisebut “reality testing”.

Peran utama Das Ich (The ego) adalah menjadi perantara antara kebutuhan instingtif dan keadaan lingkungan demi kepentingan organisme.

Kedua cara tersebut perlu berhubungan dengan dunia kenyataan (realistis) sehingga perlu ada struktur kepribadian lain, yaitu Das Ich (The ego).

 c.   Das Ueber Ich (The super ego)

Merupakan aspek sosiologis kepribadian dan aspek moral kepribadian karena lebih mngejar kesempurnaan bukan kenikmatan atau kesenangan dan cermin sesuatu yang ideal bukan yang ril (nyata).

Das Ueber Ich (The super ego) juga merupakan perwujudan wakil nilai – nilai, tradisional serta cita – cita masyarakat sebagaimana orang tua mengajarkan kepada anak – anaknya dengan pemberian hadiah dan hukuman. Das Ueber Ich diinternalisasikan perkembangan anak sebagai respon terhadap hadiah dan hukuman yang diberikan oleh orang tua dan pendidik lain. Adapun maksudnya adalah mendapat hadiah dan menghindari hukuman, anak mengatur tingkah lakunya sesuai dengan garis – garis yang dikehendaki oleh orang tuanya. Apa pun jugan yang dikatakannya sebagai tindakan baik dan bersifat menghukum, akan cenderung untuk menjadi suara hati (concientia) anak, apa pun juga disetujui dan membawa hadiah cenderung menjadi ego-ideal (Ich-Ideal) anak.  Mekanisme yang menyatukan system concientia dan ego-ideal tersebut kepada pribadi disebut introyeksi. Disini anak akan menerima dan mengintroyeksikan norma – norma moral dari orang tua.

Fungsi Das Ueber Ich pemahaman tentang adalah apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, sehingga tindakan individu sesuai dengan moral masyarakat; merintangi impuls seksual dan agresif dari id yang biasanya dikutuk masyarakat; member dorongan kepada ego agar dapat mengganti tujuan realistic dengan tujuan moralistic; dan mengajar hal – hal yang ideal (sempurna).

Das Ueber Ich (the super ego) berisi dua hal, yaitu :

  • Concientia, yaitu menghukum orang dengan memberikan rasa dosa.
  • Ich ideal, yaotu mneghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya.

Jadi, das ueber Ich itu cenderung untuk menentang, baik das ich maupun das es dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal.

DINAMIKA KEPRIBADIAN

Menurut Freud, dinamika kepribadian adalah bagaimana energy psikis didistribusikan dan dipergunakan oleh Das Es (The id), Das Ich (The ego), Das Ueber Ich (The super ego).

Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism) senagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan – dorongan Das Es (The id) maupun untuk menghadapi tekanan Das Ueber Ich (The super ego) atas Das Ich (The ego), dengan tujuan kecemasan yang dialami individu dapat dikurangi atau diredakan (Koeswara, 1991 : 46).

mekanisme pertahanan ego menurut Freud sebagai berikut :

  1. Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan ego untuk meredakan kecemasan dengan cara dorongan – dorongan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam ketidaksadaran. Contoh : kita mencoba melupakan pengalaman pahit masa lalu. Hal – hal yang ditekan ini tetap hidup di alam tidak sadar.
  2. Sublimasi, untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitive  Das Es (The id) yang menjadikan penyebab kecemasan ke dalam bentuk tingkah laku yang bisa diterima bahkan dihargai masyarakat. Contoh : impuls agresif disalurkan menjadi petinju dan tukang potong hewan.
  3. Proyeksi, yaitu pengalihan dorongan sikap atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain. Contoh : ia membenci orang lain, ia mengatakan orang itu benci kepadanya.
  4. Mengisar (displacement), yaitu pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang  kurang berbahaya disbanding individu semula. Contoh : seorang mahasiswa berbuat kesalahan pada waktu praktik dan dimarahi oleh Kepala Ruangan. Kemudian ia marah – marah lagi kepada pasien yang dirawat.
  5. Rasionalisasi, yaitu upaya individu memutarbalikan kenyataan yang mengancam ego melalui dialih tertentu yang seakan – akan masuk akal (rasional). Contoh : seorang mahasiswa nilai ulangannya jelek, alasannya karena sakit sehingga tidak dapt belajar. Padahal sebenarnya IQ-nya kurang.
  6. Pembentukan reaksi, yaitu upaya mengatasi kecemasan karena individu memiliki dorongan yang bertentangan dengan norma, dengan cara sebaliknya. Contoh : seorang anak yang dimarahi jika berpakain kotor, bereaksi dengan menjadi sangat rapid an bersih, dan menghindari hal – hal yang kotor.
  7. Regresi, yaitu upaya mengatasi kecemasan dengan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Contoh : seorang wanita remaja meminta maaf dengan gaya anak kecil.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

1. Fase Oral

Fase pertama berlangsung dari umur 0 – 1 tahun atau pada tahun pertama kehidupan, lamanya kira – kira satu tahun. Daerah pokok kegiatan dinamika adalah mulut sehingga fase ini dinamakan fae oral. Mulut dipandang sebagai sumber keenakan – ketidakenakan, kepuasan – ketidakpuasan, kenikmatan – ketidaknikmatan, yang berasal dari makanan, yaitu pada saat menyusui atau disuapin.

Pada fase ini, mulut memiliki fungsi penting dan sebagai alat utama untuk melakukan eksplorasi dan belajar. Makan dalam hal ini mencakup perangsangan terhadap bibir, rongga mulut, dan menelan. Apabila makanan yang dimakan tidak menyenangkan, makanan tersebut akan dikeluarkan. Selanjutnya, setelah tumbuh gigi susu, kenikmatan dapat timbul karena menggigit dan menguyah.

2. Fase Anal

Fase anal berlangsung dari umur 1 – 3 tahun, yang ditandai dengan berkembangnya kepuasan (kateksis) dan ketidakpuasan (antikateksis)di sekitar fungsi eliminasi. Dengan mengeluarkan feses (buang air besar) timbul perasaan lega, nyaman, dan puas. Kepuasan tersebut bersifat egosentrik, artinya anak mampu mengendalikan sendiri fungsi tubuhnya.

3. Fase Falik

Fase oral berlangsung sekitar 3 – 5 tahun, yang menjadi daerah erogen adalah bibir, fase anal adalah anus, sedangkan pada fase falik, daerah erogen yang terpenting adalah alat kelamin. Sebagai pusat dinamika perkembangan adalah perasaan perasaan seksual, dan agresif karena mulai berfungsinya alat kelamin.

4. Fase Lateen

Fase laten berlangsung sekitar umur 5 – 12 tahun atau 13 tahun. Laten artinya sama dengan terpendam dan tersembunyi. Pada fase ini impuls – impuls cenderung dalam keadaan terpendam atau tersembunyi. Akibat dari keadaan tersebut anak mudah untuk dididik dibandingkan fase pragenital (fase oral, anal, falik) maupun pada fase pubertas dan genital

Fase ini merupakan fase integritas karena anak harus berhadapan dengan tuntuntan social (mis.pelajaran sekolah, hubungan kelompok sebaya, konsep nilai, moral, dan etika serta hubungan dengan dunia dewasa).

5. Fase Pubertas

Fase pubertas berlangsung sekitar umur 13 – 20 tahun. Pada fase pubertas, impuls – impuls yang semula tenang, terpendam atau tersembunyi (laten) menonjol kembali sehingga menimbulkan aktivitas dinamis lagi. Apabila hal ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh das ich dengan berhasil individu memasuki fase kematangan terakhir yaitu fase genital.

6. Fase Genital

pada fase falik atau genital awal, katetaksis sifatnya narsis, artinya individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri dan orang lain diinginkan hanya karena memberikan bentuk tambahan kenikmatan jasmaniah. Pada fase genital ini, narsistis diarahkan ke objek luar, yaitu dengan mencintai orang lain karena alas an (mementingkan orang lain) bukan semata – mata alasan narsistis.

Pada akhir fase genital, dorongan – dorongan yang altruitis dan telah disosialisasikan ini telah menjadi permanen dalam bentuk pemindahan objek, sublimasi, dan identifikasi. Perubahan terjadi dari hanya mengejar kenikmatan yang narsistis menjadi orang dewasa yang telah disosialisasikan dan realitas.

Fungsi biologis utama fase genital adalah reproduksi. Apabila fase ini dilalui dengan aman, individu memasuki fase maturitas.

CONTOH PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI – HARI

Sangat manusiawi jika kepribadian psikoanalitis setiap orang berbeda – beda. Allah SWT menciptakan manusiawi dengan sperma dan ovum berbeda, yang pastinya juga mempunyai hormon dan gen berbeda pula, ini mengakibatkan kepribadian psikoanalitis setiap individu berbeda dan mempunyai karakter tersendiri. Kepribadian psikoanalitis juga dipengaruhi edukasi orang tua dan lingkungannya sejak masih kecil hingga dewasa.

Sigmend Freud meruapakan salah satu pencetus teori psikoanalitis. Sistematik yang dipakai Freud dalam mendiskripsikan kepribadian menjadi tiga pokok bahasan, yakni; Struktur kepribadian, Dinamika kepribadian, dan Perkembangan kepribadian.

Berikut ini contoh penerapan dalam kehidupan sehari – hari dari sistematika yang digunakan Freud:

A. Struktur Kepribadian yang terdiri dari 3 aspek :

  1. Das Es (The id) berfungsi untuk menghindarkan ketidakenakan dan mengejar keenakan
    contoh : seorang wanita yang tidak suka dengan bau rokok secara otomatis menutup hidung dengan tangannya, jika masih merasakan bau rokok wanita tersebut akan menahan nafas secara otomatis dan jika tidak enak menegur wanita tersebut akan pergi mengindar dari si perokok.
  2. Das Ich (The ego) berfungsi untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan untuk mengetahui rencana itu berhasil atau tidak.
    contoh : orang yang diare, pasti berkali – kali pergi ke kamar toilet untuk memuaskan perutnya (lega) sehingga secara signifikan cairan dalam tubuh akan berkurang dan dapat mengakibatkan dehidrasi. Orang yang diare tersebut merencanakan dimana dapat obat untuk menghentikan diare dan menambah cairan dalam tubuh, kemudian pergi ke tempat tersebut untuk mengetahui rencana tersebut sesuai dengan kenyataan atau tidak.
  3. Das Ueber Ich (The super ego, berfungsi untuk mampu mengarahkan perbuatan yang baik dan benar sesuai norma – norma yang berlaku di masyarakat.
    Contoh : anak kecil di edukasi orang tua mana sikap yang baik dan buruk

B. Dinamika Kepribadian

Contoh: seorang anak remaja yang dimarahi ibunya karena terlambat pulang ke rumahnya. Dia melakukan pertahanan ego dengan bersikap rasionalisasi, yaitu upaya individu memutarbalikan kenyataan yang mengancam ego melalui dialih tertentu yang seakan – akan masuk akal (rasional) dengan cara memberi penjelasan yang tidak benar, alasannya mengejarkan tugas sekolah di rumah teman realitanya main ke rumah teman. Setelah itu dia bersikap Regresi, yaitu upaya mengatasi kecemasan dengan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya dengan cara meminta maaf dengan gaya anak kecil.

C. Perkembangan Kepribadian

Contoh : Seorang mahasiswa sudah mulai mempunyai padangan untuk masa depannya. Dia akan menyesuaikan dengan pola kehidupannya, dengan cara mengatur waktu sehari – hari agar tujuannya tercapai, serta memilih buku – buku bacaan yang tepat. Ini termasuk dalam perkembangan kepribadian fase pubertas umur 13 – 20 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Sunaryo. 2004 . Psikologi untuk Keperawatan . Jakarta: EGC.

[0nline]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Psikoanalisis

Awan Tag

personality hemas yulinda rachmawati

Social Intellegence ( kepribadian sosial)

Personality Annisa Noor Ramdhani

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

personalityshintafs

Time Management

Personality Ilma Rihadatul Aisy

Adversity Quotion (Kesiapan Menghadapi Tantangan)

personalityfajar

Kesiapan Menghadapi Tantangan (Adversity Quotion)

Personality Selly Desiani

Emosional Intellegence. Control your emotions or your emotions will control you!!

personalityeskamadya

Positive Thinking

Personality Adilla

Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosi)

Personality Yuliani Kulsum

A fine WordPress.com site

personality Nuri Novelia

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

PERSONALITY AYU FITRI LESTARI

TATA NILAI PERAWAT CARE, EMPATI, ALTRUISME

Personality Noor Fathara

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Personality Gilang Guntara Eka Putra

Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence)

Personality Rara Rianita

Positive Thinking (Berpikir Positif)

Personality Siti Solihah

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence)

Personality Dewi Sartika

Paradigma Psikologi Kepribadian Trait

Personality Mutia Anggraini

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Personality Novi Irmala

Tata nilai perawat care, empathy, altruism

PERSONALITY IMAMMUHAMAD95

Kunci Kesuksesan Berawal dari Berfikir Positive

Personality Dwi Junianto

KEHIDUPAN TIDAK AKAN LEPAS DARI TANTANGAN HINGGA HARI PERHITUNGAN

Personality Oselia

Hadapi Tantangan dengan Senyuman

Personalitymamayhumaeroh

Tata Nilai Perawat Care, Empaty, Altruism

Personality Ranitya HY

TIME MANAGEMENT

Personality Rio Nurgiri

Adversity Quotient (Kesiapan Menghadapi Tantangan)

Personality Fika

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

personalitycecillia

Paradigma psikologi kepribadian Cognitive dan Behavioristic

personalityandreanreynaldi

Spiritual Intelligence

personality yuanita

Kecerdasan Emosi (Emosi Intelligence)

Personality Siti Nur Alfiyah

Paradigma Psikologi Kepribadian Psikoanalitik

Personality Silmina Nur

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

personalityregadwiputri

selamat datang di wordpress saya :)

PERSONALITY DESTI RAHMAWATI

PARADIGMA PSIKOLOGI KEPRIBADIAN TRAIT

Personality Halimah

paradigma psikologi kepribadian trait

Personality Intan Madulara

Paradigma Kepribadian Cognitive dan Behavioristic

Personality Putri Puspa Delima

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

personality latifa

berpikir positif

Personality Listia

Tata nilai perawat Care, Empaty, Altruism

Personality Syifa Maghfirah Chaerunnisa

Kesiapan menghadapi tantangan (Adversity Quotion)

Personality Nur Alfiyah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Personality Nur Annisa Deviana

Paradigma Psikologi Kepribadian Cognitive dan Behavioristic